SURABAYA, 20 April 2026 – Di tengah keriuhan suasana Rapat Paripurna MUI Jawa Timur yang membahas reposisi strategis organisasi, terselip sebuah momen hening yang sarat makna. Dr. Moch Yasin, S.Kom., M.Kom., M.B.A., Direktur LSP Mitra Umat Islam, tampak merunduk takzim, mencium tangan KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alallah.
Momen ini menjadi sorotan karena memperlihatkan sisi lain dari seorang profesional dan akademisi. Dr. Moch Yasin sejenak menanggalkan atribut jabatannya dan kembali menjadi "santri" di hadapan sang guru.
Menjaga Amanah Lembaga di Masa Transisi
Pertemuan ini memiliki dimensi historis yang sangat kuat. LSP Mitra Umat Islam merupakan lembaga mandiri yang lahir dari rahim MUI Jawa Timur pada masa kepemimpinan Kiai Mutawakkil. Bahkan, nama lembaga tersebut merupakan pemberian langsung dari beliau sebagai sebuah doa agar lembaga ini menjadi jembatan bagi peningkatan kompetensi umat.
Sebagai Direktur yang dipercaya mengelola lembaga bentukan MUI Jatim tersebut, Dr. Moch Yasin hadir bukan sekadar sebagai tamu undangan, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar yang melaporkan kesetiaan dan keberlanjutan amanah. Di masa transisi kepemimpinan MUI Jatim ini, kehadiran Dr. Moch Yasin menjadi simbol bahwa visi Kiai Mutawakkil dalam membangun profesionalisme umat tetap terjaga dengan kuat.

Keheningan yang Sarat Makna
Dalam pertemuan tersebut, Kiai Mutawakkil tidak memberikan pernyataan lisan atau komentar panjang. Namun, sambutan tangan dan tatapan teduh beliau saat Dr. Moch Yasin bersalaman sudah cukup menggambarkan restu yang terus mengalir. Bagi seorang santri yang pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, diamnya Kiai adalah sebuah ketenangan, dan jabat tangannya adalah sumber kekuatan batin untuk terus menjalankan roda organisasi.
Gestur mencium tangan yang dilakukan Dr. Moch Yasin bukan sekadar formalitas protokoler, melainkan manifestasi dari adab yang jauh melampaui gelar akademik maupun posisi pimpinan yang disandangnya. Hal ini menegaskan bahwa setinggi apa pun pencapaian seorang santri di dunia profesional, ia akan tetap merunduk dan setia pada nilai-nilai yang ditanamkan gurunya.
Simbol Kesinambungan Perjuangan
Kehadiran Dr. Moch Yasin di forum ini menunjukkan bahwa kader-kader santri Genggong kini telah berdiaspora ke berbagai sektor strategis, termasuk mengelola lembaga mandiri yang didirikan oleh ulama. Meskipun Kiai Mutawakkil kini lebih fokus pada pengabdian di pesantren dan menempati posisi Dewan Pertimbangan, pengaruh spiritual dan visinya dalam membentuk LSP Mitra Umat Islam tetap menjadi energi bagi para pengelolanya.
Rapat Paripurna ini memang menetapkan estafet kepemimpinan baru MUI Jatim kepada Prof. Dr. KH. Abd. Halim Soebahar, namun bagi Dr. Moch Yasin, momen bersalaman dengan Kiai Mutawakkil hari ini adalah peneguh komitmen untuk terus membesarkan amanah yang telah dititipkan kepada beliau sejak awal berdirinya lembaga tersebut.

Oleh: Tim Humas LSP Mitra Umat Islam
Surabaya, 20 April 2026
